ANALISIS DAYA DUKUNG WILAYAH SEBAGAI ALTERNATIF KEBIJAKAN BIDANG PANGAN

ANALISIS DAYA DUKUNG WILAYAH SEBAGAI ALTERNATIF KEBIJAKAN BIDANG PANGAN

Pendahuluan

old-cities-amsterdam

Keberhasilan paradigma pertumbuhan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat seringkali harus dicapai melalui pengorbanan berupa deteriorasi ekologis, baik berwujud kerusakan tanah, maupun penyusutan sumberdaya alam yang tidak dapat diperbaharui lagi. Secara makro, konsekuensi dari upaya-upaya mewujudkan masyarakat yang berkelimpahan bukannya tanpa pengorbanan yang membahayakan planet bumi ini.

Pada koridor pembangunan yang berkelanjutan, ada dua hal pokok yang ditekankan dan saling berhubungan yaitu kebutuhan dan keterbatasan. Perencanaan berkaitan dengan faktor-faktor produksi atau sumberdaya yang terbatas dapat dimanfaatkan untuk mencapai hasil yang optimal sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

Analisis Daya Dukung Wilayah

Daya dukung wilayah (carrying capacity) adalah daya tampung maksimum lingkungan untuk diberdayakan oleh manusia. Dengan kata lain populasi yang dapat didukung dengan tak terbatas oleh suatu ekosistem tanpa merusak ekosistem itu. Daya dukung juga dapat didefinisikan sebagai tingkat maksimal hasil sumber daya terhadap beban maksimum yang dapat didukung dengan tak terbatas tanpa semakin merusak produktivitas wilayah tersebut sebagai bagian integritas fungsional ekosistems yang relevan. Fungsi beban manusia tidak hanya pada jumlah populasi akan tetapi juga konsumsi perkapita serta lebih jauh lagi adalah faktor berkembangnya perdagangan dan industri secara cepat. Satu hal yang perlu dicatat, bahwa adanya inovasi teknologi tidak meningkatkan daya dukung wilayah akan tetapi berperan dalam meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya alam.

Analisis daya dukung (carrying capacity ratio) merupakan suatu alat perencanaan pembangunan yang memberikan gambaran hubungan antara penduduk, penggunaan lahan dan lingkungan. Dari semua hal tersebut, analisis daya dukung dapat memberikan informasi yang diperlukan dalam menilai tingkat kemampuan lahan dalam mendukung segala aktifitas manusia yang ada di wilayah yang bersangkutan.

Informasi yang diperoleh dari hasil analisis daya dukung secara umum akan menyangkut masalah kemampuan (daya dukung) yang dimiliki oleh suatu daerah dalam mendukung proses pembangunan dan pengembangan daerah itu, dengan melihat perbandingan antara jumlah lahan yang dimiliki dan jumlah penduduk yang ada. Produktivitas lahan, komposisi penggunaan lahan, permintaan per kapita, dan harga produk agrikultur, semua dipertimbangkan untuk mempengaruhi daya dukung dan digunakan sebagai parameter masukan model tersebut.

Konsep yang digunakan untuk memahami ambang batas kritis daya-dukung ini adalah adanya asumsi bahwa ada suatu jumlah populasi yang terbatas yang dapat didukung tanpa menurunkan derajat lingkungan yang alami sehingga ekosistem dapat terpelihara. Secara khusus, kemampuan daya dukung pada sector pertanian diperoleh dari perbandingan antara lahan yang tersedia dan jumlah petani. Sehingga data yang perlu diketahui adalah data luas lahan rata-rata yang dibutuhkan per keluarga, potensi lahan yang tersedia dan penggunaan lahan untuk kegiatan non pertanian.

Penutup

Hasil analisis daya dukung dapat dipergunakan sebagai salah satu alat atau metode bagi perencana dalam membantu menentukan kebijakan yang akan ditetapkan terhadap suatu wilayah. Kebijakan yang akan ditetapkan tersebut akan sangat erat dengan berbagai implikasi yang melekat di dalamnya.  Suatu wilayah yang akan dikembangkan potensinya harus dilihat kondisi empiris faktual yang ada diwilayah tersebut. Berbagai kebijakan yang akan dikeluarkan apabila didasarkan pada analisa tersebut adalah berupa kebijakan yang saling berkaitan antara lain :

1. Kebijakan dibidang kependudukan terutama upaya untuk menekan pertumbuhan penduduk.

2. Kebijakan dibidang budidaya pertanian berupa intensifikasi lahan pertanian dengan tujuan meningkatkan produktivitas lahan pertanian yang ada.

3. Kebijakan dibidang tata ruang dan pertanahan yaitu berupa pengendalian perubahan fungsi lahan dari pertanian menjadi non pertanian.

4. Kebijakan dibidang kerjasama regional dengan wilayah sekitar dan wilayah penghasil pangan sebagai alternativ penyedia sumber pangan.

rokok dan persahabatan

Rokok lambang persahabatan

: pengusik kesadaran yang terpendam sekian lama

(sorry b’coz about tembakau..)



Rabu sore 19 November 2008 di centrum Groningen. Petang itu kita perlu nambah logistic demi mempertahankan daya survival kita. So, kita dapat slot waktu ke vismarket. Itu adalah central tempat perbelanjaan di Groningen yang antara lain terdiri dari pedagang kaki lima disamping juga pertokoan pada umumnya. But jangan dibayangkan kaki lima di sini sama denngan kaki lima di Indonesia. Beda banget. Komoditas sih hampir sama, barang jualan mereka mulai dari bahan makanan segar, baju, jaket, celana, bahkan sampai benang jahit. Tapi mereka menggunakan mobil gandengan untuk tempat dagangan mereka. Jadi gak ada kamus tuh trantib dan tibum mencak-mencak karena mereka (lagian disana juga gak ada dua jenis pekerjaan itu).

Setelah berbelanja untuk beberapa waktu, kami kembali ke centrum of Groningen. Centrum adalah sebuah tempat ditengah kota yang berfungsi sebagai titik hubungan transportasi darat yaitu kereta api dan bus. Stasiun dan terminal berada dalam satu tempat…so effective.

Hujan deras dan dingin yang bener-bener excelente, memancing rasa untuk menghisap tembakau. Indonesian taste : Dji Sam Soe, branded rokok yang luar biasa (iklan gratis nih) secara jujur mesti aku akui, patent banget ! Baik rasa maupun aroma yang sangat eksotis sekali. Nah, ini awal ceritanya. Karena di Holland ada aturan tidak boleh merokok di dalam ruangan, so kami para ahli hisab (red : sebutan bagi kami para penghisap tembakau) menyingkir keluar ruangan tentunya dengan mengalahkan rasa dingin yang mendera. Nekat, padahal suhu 00 C !

Setelah 5 menit kami berada diluar centrum, sembari menunggu bus yang menjemput kita, tiba-tiba ada orang bule yang lari mendekat ditengah guyuran hujan. I thought he was our bus driver yang jemput kita. But..ternyata bukan. Ketika sudah dekat, dia bilang (dengan bahasa Indonesia yang lancar) “ Pak, bolehkah saya minta rokok kretek anda, barang sebatang saja ?” Ups….kaget banget. Belum sempat kita jawab dia langsung nyerocos “saya sangat rindu dengan rokok kretek dari Indonesia, dan saya yakin kalo anda dari Indonesia, ya dari asap rokok yang saya hirup” wakakaka…

Cerita gak berhenti disitu saja, setelah dia aku kasih sebatang rokok, iseng aku tanya “ anda dulu tinggal dimana di Indonesia ?” dan dia jawab “Yogyakarta”. And than dia nglanjutin critanya kalo dia tinggal di Yogyakarta selama 2 tahun pada 8 tahun silam. Kebayang khan betapa termemorinya smelt tembakau di otak bawah sadar dia. Candu bener yak….

Kebetulan akupun berasal dari Yogyakarta, jadi cerita nyambung lagi. Ketika aku lanjutin dimana dia tinggal saat studi di kampus lamaku yaitu UGM, apa yang terjadi ? Olala……ternyata memang dunia seluas daun kelor !!! Habis bingung mo ngasih nama apalagi untuk jenis daun yang lebih kecil selain kelor, he…he…

Aku bener-bener terperanjat ketika dia menyebut sebuah nama tempat yang gak asing buatku. Why ? b’cos tempat itu adalah tempat tinggal orangtuaku. Setelah aku cecar lebih lanjut, ternyata…dia tinggal 2 rumah dari rumah orang tuaku dan kami kenal baik dengan keluarga tersebut. Wow…amazing sekali. Dia begitu terperanjat dan kaget, sembari dia bilang.. “the world is too small for hidden”. Wakakak…bisa aja dia tuh..

And than….walhasil yang tadinya aku sudah ngasih sebatang rokok, segera aku anulir dengan memberikan bonus tambahan ¾ batang yang tersisa dalam satu pack rokokku.. I hope 10 batang rokok bisa menjadi obat pelepas rindu setelah 8 tahun otak bawah sadarnya terusik oleh bau asap tembakau Indonesia.. Olala……candu oh candu.

INFRASTRUCTURE BUDGETING : dilema finansial

INFRASTRUCTURE BUDGETING

: sebuah dilema finansial

Hantaman krisis ekonomi yang melanda dunia, mau diakui atau tidak telah menggoyahkan landasan fundamental perekonomian, tak terkecuali Indonesia. Hutang pemerintah yang menumpuk merupakan salah satu akibat yang harus ditanggung sebagai sebuah “luka” akibat benturan krisis tersebut.

Berkaitan dengan kegiatan pembangunan infrastruktur, kesinambungan fiskal menjadi suatu masalah besar yang tidak terbayangkan sebelumnya. Fungsi strategis infrastruktur jelas tidak diragukan lagi. Tanpa pembangunan infrastruktur yang mencukupi, kegiatan investasi pembangunan lainnya, seperti kegiatan produksi, jelas tidak akan meningkat secara signifikan.

Sebagai konsekuensi dari pulihnya ekonomi, maka mendorong peningkatan kebutuhan jasa pelayanan infrastruktur. Dimana pertumbuhan ekonomi harus didukung oleh adanya ketersediaan infrastruktur yang memadai. Ada hasil sebuah studi yang dilakukan oleh Bappenas menunjukkan bahwa untuk mendukung pertumbuhan ekonomi antara tahun 2005 – 2009 diperlukan dana sebesar Rp 613 trilliun. Nilai tersebut merupakan investasi yang diperlukan untuk membangun infrastruktur baru. Sedangkan kemampuan investasi pemerintah dibidang infrastruktur diprediksikan hanya mencapai Rp 346,5 trilliun pada kisaran waktu yang sama. Terbayang sudah keseimbangan financial yang dibutuhkan untuk investasi di bidang infrastruktur.

Dilema yang muncul adalah, pada satu sisi kebutuhan akan investasi sudah diluar kemampuan fiskal pemerintah, sedangkan disisi yang lain ketidakmampuan dalam menyediakan infrastruktur yang baru akan menimbulkan dampak pada kinerja kegiatan perekonomian. Untuk menutupi kesenjangan dalam pembiayaan, maka pemerintah tentunya memerlukan sumber dana yang lain. Pada persoalan ini, investasi swasta tentunya menjadi tumpuan harapan.

Dalam kajian teori ekonomi pembangunan, dikatakan bahwa untuk menciptakan dan meningkatkan kegiatan ekonomi diperlukan sarana infrastruktur yang memadai. Ilustrasinya sederhana. Kalau semula tidak ada akses jalan lalu dibuat jalan, maka dengan akses tersebut akan meningkatkan aktivitas perekonomian. Contoh lain di suatu komunitas bisnis, semula tidak ada listrik, dengan adanya listrik kegiatan ekonomi di komunitas tersebut akan meningkat.

Berbicara masalah target, untuk mencapai rata-rata pertumbuhan 6,6% per tahun selama 5 tahun mendatang, Indonesia memerlukan investasi infrastruktur sekitar 150 miliar dollar AS, yang di antaranya 60 miliar dollar AS berasal dari anggaran pemerintah dan lembaga keuangan domestik (pinjaman bank, pasar modal dan lembaga keuangan domestik lainnya) serta 10 milar dolar berasal dari negara donor.

Untuk mendorong investasi, pemerintah berkomitmen untuk menciptakan iklim usaha dan investasi yang kondusif dan kompetitif. Hal ini diupayakan melalui penerapan kebijakan yang konsisten dalam pemeliharaan stabilitas makroekonomi dan memperbaiki infrastruktur hukum untuk kepastian berusaha serta melanjutkan reformasi sektor keuangan domestik dan reformasi sektor-sektor yang terkait dengan pembangunan infrastruktur. Semoga……..


Struktur Ruang Kota

copy-of-dscn4663 Teori-teori yang melandasi struktur ruang kota yang paling dikenal adalah Teori Konsentris (Concentric Zone Theory), Teori Sektoral (Sector Theory) dan Teori Pusat Berganda (Multiple Nuclei Theory). Ketiga teori tersebut mengkaji bahwa setiap kota memiliki pusat kota dan biasanya dinamakan Daerah Pusat Kegiatan (DPK) atau Central Bussiness District (CBD). Namun, masing-masing teori menyatakan pengertian yang berlainan mengenai DPK tersebut. Berikut ini adalah pengertian atau esensi dari DPK atau CBD menurut masing-masing teori tersebut, antara lain:

1. Menurut Teori Konsentris (Burgess,1925) DPK atau CBD adalah pusat kota yang letaknya tepat di tengah kota dan berbentuk bundar yang merupakan pusat kehidupan sosial, ekonomi, budaya dan politik, serta merupakan zona dengan derajat aksesibilitas tinggi dalam suatu kota. DPK atau CBD tersebut terbagi atas dua bagian, yaitu: pertama, bagian paling inti atau RBD (Retail Business District) dengan kegiatan dominan pertokoan, perkantoran dan jasa; kedua, bagian di luarnya atau WBD (Wholesale Business District) yang ditempati oleh bangunan dengan peruntukan kegiatan ekonomi skala besar, seperti pasar, pergudangan (warehouse), dan gedung penyimpanan barang supaya tahan lama (storage buildings).

2. Menurut Teori Sektoral (Hoyt,1939) DPK atau CBD memiliki pengertian yang sama dengan yang diungkapkan oleh Teori Konsentris.

3. Menurut Teori Pusat Berganda (Harris dan Ullman,1945) DPK atau CBD adalah pusat kota yang letaknya relatif di tengah-tengah sel-sel lainnya dan berfungsi sebagai salah satu “growing points”. Zona ini menampung sebagian besar kegiatan kota, berupa pusat fasilitas transportasi dan di dalamnya terdapat distrik spesialisasi pelayanan, seperti “retailing” distrik khusus perbankan, teater dan lain-lain (Yunus, 2000:49). Namun, ada perbedaan dengan dua teori yang disebutkan di atas, yaitu bahwa pada Teori Pusat Berganda terdapat banyak DPK atau CBD dan letaknya tidak persis di tengah kota dan tidak selalu berbentuk bundar.

Teori lainnya yang mendasari struktur ruang kota adalah Teori Ketinggian Bangunan; Teori Konsektoral; dan Teori Historis. Dikaitkan dengan perkembangan DPK atau CBD, maka berikut ini adalah penjelasan masing-masing teori mengenai pandangannya terhadap DPK atau CBD :

1. Teori Ketinggian Bangunan (Bergel, 1955). Teori ini menyatakan bahwa perkembangan struktur kota dapat dilihat dari variabel ketinggian bangunan. DPK atau CBD secara garis besar merupakan daerah dengan harga lahan yang tinggi, aksesibilitas sangat tinggi dan ada kecenderungan membangun struktur perkotaan secara vertikal. Dalam hal ini, maka di DPK atau CBD paling sesuai dengan kegiatan perdagangan (retail activities), karena semakin tinggi aksesibilitas suatu ruang maka ruang tersebut akan ditempati oleh fungsi yang paling kuat ekonominya.

2. Teori Konsektoral (Griffin dan Ford, 1980). Teori Konsektoral dilandasi oleh strutur ruang kota di Amerika Latin. Dalam teori ini disebutkan bahwa DPK atau CBD merupakan tempat utama dari perdagangan, hiburan dan lapangan pekerjaan. Di daerah ini terjadi proses perubahan yang cepat sehingga mengancam nilai historis dari daerah tersebut. Pada daerah – daerah yang berbatasan dengan DPK atau CBD di kota-kota Amerika Latin masih banyak tempat yang digunakan untuk kegiatan ekonomi, antara lain pasar lokal, daerah-daerah pertokoan untuk golongan ekonomi lemah dan sebagian lain dipergunakan untuk tempat tinggal sementara para imigran.

3. Teori Historis (Alonso, 1964). DPK atau CBD dalam teori ini merupakan pusat segala fasilitas kota dan merupakan daerah dengan daya tarik tersendiri dan aksesibilitas yang tinggi.

Jadi, dari teori-teori tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa DPK atau CBD merupakan pusat segala aktivitas kota dan lokasi yang strategis untuk kegiatan perdagangan skala kota.