INFRASTRUCTURE BUDGETING : dilema finansial

INFRASTRUCTURE BUDGETING

: sebuah dilema finansial

Hantaman krisis ekonomi yang melanda dunia, mau diakui atau tidak telah menggoyahkan landasan fundamental perekonomian, tak terkecuali Indonesia. Hutang pemerintah yang menumpuk merupakan salah satu akibat yang harus ditanggung sebagai sebuah “luka” akibat benturan krisis tersebut.

Berkaitan dengan kegiatan pembangunan infrastruktur, kesinambungan fiskal menjadi suatu masalah besar yang tidak terbayangkan sebelumnya. Fungsi strategis infrastruktur jelas tidak diragukan lagi. Tanpa pembangunan infrastruktur yang mencukupi, kegiatan investasi pembangunan lainnya, seperti kegiatan produksi, jelas tidak akan meningkat secara signifikan.

Sebagai konsekuensi dari pulihnya ekonomi, maka mendorong peningkatan kebutuhan jasa pelayanan infrastruktur. Dimana pertumbuhan ekonomi harus didukung oleh adanya ketersediaan infrastruktur yang memadai. Ada hasil sebuah studi yang dilakukan oleh Bappenas menunjukkan bahwa untuk mendukung pertumbuhan ekonomi antara tahun 2005 – 2009 diperlukan dana sebesar Rp 613 trilliun. Nilai tersebut merupakan investasi yang diperlukan untuk membangun infrastruktur baru. Sedangkan kemampuan investasi pemerintah dibidang infrastruktur diprediksikan hanya mencapai Rp 346,5 trilliun pada kisaran waktu yang sama. Terbayang sudah keseimbangan financial yang dibutuhkan untuk investasi di bidang infrastruktur.

Dilema yang muncul adalah, pada satu sisi kebutuhan akan investasi sudah diluar kemampuan fiskal pemerintah, sedangkan disisi yang lain ketidakmampuan dalam menyediakan infrastruktur yang baru akan menimbulkan dampak pada kinerja kegiatan perekonomian. Untuk menutupi kesenjangan dalam pembiayaan, maka pemerintah tentunya memerlukan sumber dana yang lain. Pada persoalan ini, investasi swasta tentunya menjadi tumpuan harapan.

Dalam kajian teori ekonomi pembangunan, dikatakan bahwa untuk menciptakan dan meningkatkan kegiatan ekonomi diperlukan sarana infrastruktur yang memadai. Ilustrasinya sederhana. Kalau semula tidak ada akses jalan lalu dibuat jalan, maka dengan akses tersebut akan meningkatkan aktivitas perekonomian. Contoh lain di suatu komunitas bisnis, semula tidak ada listrik, dengan adanya listrik kegiatan ekonomi di komunitas tersebut akan meningkat.

Berbicara masalah target, untuk mencapai rata-rata pertumbuhan 6,6% per tahun selama 5 tahun mendatang, Indonesia memerlukan investasi infrastruktur sekitar 150 miliar dollar AS, yang di antaranya 60 miliar dollar AS berasal dari anggaran pemerintah dan lembaga keuangan domestik (pinjaman bank, pasar modal dan lembaga keuangan domestik lainnya) serta 10 milar dolar berasal dari negara donor.

Untuk mendorong investasi, pemerintah berkomitmen untuk menciptakan iklim usaha dan investasi yang kondusif dan kompetitif. Hal ini diupayakan melalui penerapan kebijakan yang konsisten dalam pemeliharaan stabilitas makroekonomi dan memperbaiki infrastruktur hukum untuk kepastian berusaha serta melanjutkan reformasi sektor keuangan domestik dan reformasi sektor-sektor yang terkait dengan pembangunan infrastruktur. Semoga……..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s